Selasa, 19 April 2011

TURUNNYA AL-QUR'AN


BAB I
PENDAHULUAN


      Allah menurunkan Al-Quran kepada nabi Muhammad SAW yang diturunkan secara mutawatir, diawali dengan surah al-fatihah dan diakhiri dengan surah an-naas yang membacanya bernilai ibadah dan mengajarkannya merupakan suatu amal yang bernilai kebaikan.
      Turunnya Al-Quran merupakan suatu peristiwa yang luar biasa yang sekaligus menyatakan kedudukannya kepada penghuni langit dan bumi. Turunnya Al-Quran yang pertama kali pada malam lailatul qadar merupakan pemberitahuan kepada alam tingkat tinggi yang terdiri dari malaikat-malaikat akan kemuliaan ummat Muhammad. Sedangkan turunnya Quran yang kedua kali dilakukan secara bertahap. Tujuan Al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur ialah untuk menguatkan hati Rasul dan menghiburnya serta mengikuti peristiwa dan kejadian-kejadian yang sesuai pada saat itu sampai Allah menyempurnakan agama ini dan mencukupkan nikmat-Nya. Tempat turunnya Al-Quran ini terletak pada dua kota yang diberkahi oleh Allah SWT yaitu kota Makkah dan Madinah.
      Dalam makalah ini akan diuraikan beberapa hal mengenai turunnya Quran sekaligus, turunnya Quran secara bertahap, dan hikmah diturunkannya Quran secara bertahap.



BAB II
PEMBAHASAN


A.   Turunnya Al-Quran Sekaligus
 

Allah berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia :



               ”Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dengan yang bathil.” (QS. Al-Baqarah : 185)


               ”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Qur’an) pada malam lailatul qadar.” (QS. Al-Qadr : 1)


               ”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Quran) pada suatu malam yang diberkahi.” (QS. Ad-Dukhan : 31)           
               Menurut Ibn Abbas dan sejumlah ulama lainnya, bahwa yang dimaksud dengan turunnya Qur’an dalam ketiga ayat diatas adalah Al-Quran diturunkan secara sekaligus ke Baitul ’Izzah di langit dunia agar para malaikat menghormati kebesarnnya. Kemudian sesudah itu Qur’an diturunkan kepada Rasul kita Muhammasd SAW secara bertahap selama dua puluh tiga tahun.[1]
               Dari Ibn Abbas disebutkan bahwa dia ditanya oleh ’Atiyah bin Al-Aswad, katanya : ’Dalam hatiku terjadi keraguan tentang firman Allah, Bulan Ramadhan itulah bulan yang didalamnya diturunkan Qur’an dan dalam firman Allah juga disebutkan bahwa Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam lailatul qadar. Padahal Qur’an itu ada yang diturunkan pada bulan Syawal, Zul Kaidah , Zul Hijjah, Muharram, Safar dan Rabi’ul Awwal.” Lalu Ibn Abbas menjawab : ”Qur’an diturunkan pada malam lailatul qadar sekaligus. Kemudian diturunkan secara berangsur-angsur, sedikit demi sedikit dan terpisah-pisah serta perlahan-lahan di sepanjang bulan dan hari.”[2]
               Dengan demikian pendapat yang paling kuat ialah bahwa Al-Qur’anul Karim itu dua kali diturunkan. Pertama diturunkan secara sekaligus pada malam lailatul qadar ke Baitul ’Izzah di langit dunia dan yang kedua diturunkan dari langit dunia ke bumi secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun.
               As-Sakhawi mengatakan dalam Jamalul Qurra : ”Turunnya Qur’an ke langit dunia sekaligus itu menunjukkan suatu penghormatan kepada keturunan Adam di hadapan para malaikat, serta pemberitahuan kepada para malaikat akan perhatian Allah dan rahmat-Nya kepada mereka.[3]


B.   Turunnya Al-Quran Secara Bertahap
      Ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan sehubungan dengan segala peristiwa baik yang bersifat individual atau sosial (kemasyarakatan) yang terjadi secara berturut-turut selama kurang lebih 23 tahun sampai akhir hidup Rasulullah.[4]
      Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun, tiga belas tahun di Mekah dan sepuluh tahun di Madinah. Penjelasan tentang turunnya Qur’an berangsur-angsur itu terdapat dalam firman Allah SWT :


      “Dan Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. Al-Isra’ : 106)
      Melalui wahyu, Allah SWT memberi tuntunan dan petunjuk, memantapkan ketabahan serta menambah ketenangan Rasulullah. Wahyu juga diturunkan sejalan dengan keperluan yang dibutuhkan untuk mendidik para sahabat Nabi, memperbaiki adat kebiasaan dan menjawab berbagai kejadian yang mereka tanyakan.[5]
      Penelitian terhadap hadist-hadist shahih menyatakan bahwa Qur’an turun menurut keperluan. Terkadang turun lima ayat, terkadang sepuluh ayat, dan terkadang lebih banyak dari itu atau lebih sedikit.[6]

C.   Hikmah Turunnya Al-Qur’an Secara Bertahap
 

     Kita dapat menyimpulkan hikmah turunnya Qur’an secara bertahap dari nash-nash yang berkenaan dengan hal itu. Adapun hikmah-hikmahnya adalah sebagai berikut :
  1. Menguatkan atau meneguhkan hati Rasulullah SAW
      Wahyu turun kepada Rasulullah SAW dari waktu ke waktu sehingga dapat meneguhkan hatinya atas dasar kebenaran dan memperkuat kemauannya untuk tetap melangkahkan kaki di jalan dakwah tanpa menghiraukan perlakuan jahil yang dihadapinya dari masyarakatnya sendiri. Qur’an juga memerintahkan Rasul bersabar sebagaimana Rasul-Rasul sebelumnya :


      ”Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari para rasul yang telah bersabar.”
      Jiwa Rasul menjadi tenang karena Allah menjamin akan melindunginya dari gangguan orang-orang yang mendustakan firman-Nya.
  1. Sebagai tantangan dan mukjizat
      Orang-orang musyrik sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan maksud melemahkan dan menantang untuk menguji kenabian Rasulullah. Mereka juga sering menyampaikan kepadanya hal-hal bathil yang tak masuk akal. Karena itu, maka turunlah Qur’an dengan ayat yang menjelaskan kepada mereka segi kebenaran dan memberikan jawaban yang amat jelas atas pertanyaan-pertanyaan mereka.
  1. Mempermudah hafalan dan pemahamannya
      Umat yang buta huruf itu tidaklah mudah untuk menghafal seluruh Qur’an seandainya Qur’an diturunkan sekaligus, dan tidak mudah pula bagi mereka untuk memahami maknanya dan memikirkan ayat-ayatnya. Jelasnya bahwa turunnya Qur’an secara berangsur-angsur itu merupakan bantuan terbaik bagi mereka untuk menghafal dan memahami ayat-ayatnya. Setiap kali turun satu atau beberapa ayat, para sahabat segera menghafalnya, memikirkan maknanya dan mempelajari hukum-hukumnya. Tradisi demikian ini menjadi suatu metode pengajaran dalam kehidupan para tabi’in.
  1. Kesesuaian dengan peristiwa-peristiwa dan pentahapan dalam penetapan hukum
Qur’an turun sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi bagi kaum Muslimin dalam perjuangan mereka yang panjang.
  1. Bukti yang pasti bahwa Al-Qur’anul Karim diturunkan dari sisi Yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji
Penggambaran wahyu Ilahi tentang pribadi Rasulullah benar-benar merupakan dalil intuitif yang membuktikan kebenaran Rasulullah. Sungguh turunya ayat-ayat Al-Qur’an secara berangsur merupakan pembuktian logis yang meyakinkan bahwa Kitab Suci Al-Qur’an adalah Kalamullah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Yaitu, Kitab Suci yang diturunkan Allah kepada Rasulnya sebagai petunjuk, sebagai pelajaran dan penjelasan mengenai segala sesuatu.


     
BAB III
PENUTUP

           
      Al-Qu’an diturunkan pada malam yang mulia yaitu malam lailatul qadar. Turunnya Al-Qur’an yang pertama adalah secara sekaligus dan yang kedua secara berangsur-angsur. Tujuan Al-Qur’an diturunkan secara bertahap adalah agar mempermudah dalam menghafal, memahami, dan menghayati makna-makna ayat Al-Qur’an. Pada umumnya Al-Qur’an diturunkan di dua kota yang mulia yaitu kota Mekah dan Madinah.                 Pemahaman penuh terhadap kajian makalah ini merupakan sebuah pondasi dasar dalam memulai kerangka pembentukan pemahaman yang integral terhadap ilmu-ilmu Al-Qur’an.












DAFTAR PUSTAKA
As-Shalih, Subhi. Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur’an : Pustaka Firdaus, 1993
Al-Qattan, Manna Khalil. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an : Litera AntarNusa, 2000


















[1] Manna Khalil Al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an (Bogor : Pustaka Litera AntarNusa, 2000 ), h. 145
[2] Ibid, h. 151
[3] Ibid, h. 152
[4] Subhi As-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur’an  (Jakarta : Pustaka Firdaus, 1993), h. 54
[5] Ibid, h. 53
[6] Manna Khalil Al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, h. 156

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar