Selasa, 19 April 2011

PENDIDIKAN PRA SEKOLAH


BAB I
PENDAHULUAN


Pemerintah Republik Indonesia mulai sangat peduli akan arti masa prasekolah (3-6 tahun) yang merupakan pengalaman awal yang akan memberikan kualitas bangsa di masa yang akan datang.
            Seperti diketahui, dalam masyarakat Indonesia telah berkembang berbagai pelayanan pendidikan prasekolah baik yang diselenggarakan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak), Departemen Sosial (Tempat Penitipan Anak), Kantor Menteri Negara Urusan Peranan Wanita dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana (bina Keluarga Balita).
            Sebagai perwujudan dari usaha-usaha pemerintah dalam bidang sekolah, oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan telah dilakukan penyusunan dan revisi kurikulum Taman Kanak-Kanak yang melibatkan ahli di bidang pendidikan, psikolog, guru, pengelola, serta penyelenggara pendidikan formal maupun dari luar sekolah khususnya yang berhubungan dengan prasekolah.
            Untuk mengupas lebih lanjut, dalam makalah ini kami akan membahas mengenai; Pengertian Pendidikan Prasekolah, Landasan Undang-Undang Pendidikan Prasekolah, Pembelajaran Pendidikan Prasekolah, dan Pendidikan Prasekolah di Indonesia.








BAB II
PENDIDIKAN PRASEKOLAH


A.  PENGERTIAN PENDIDIKAN PRASEKOLAH
Pendidikan prasekolah merupakan dasar bagi perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan, daya cipta dan penyesuaiannya dengan lingkungan sosialnya. Oleh karena itu, perlu diusahakan agar pendidikan ini dapat dinikmati oleh segenap lapisan masyarakat. Bantuan dari semua pihak sangat diperlukan, terutama dari media massa, seperti radio, televisi, surat kabar, majalah, dan buku-buku bagi anak balita.[1]
Pendidikan prasekolah adalah pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak didik di luar dilingkungan keluarga sebelum memasuki pendidikan dasar, yang diselenggarakan di jalur pendidikan sekolah atau di jalur pendidikan luar sekolah. Pendidikan prasekolah antara lain meliputi pendidikan Taman Kanak-kanak, terdapat di jalur sekolah, dan Kelompok Bermain, serta Penitipan Anak di jalur luar sekolah. Taman Kanak-kanak diperuntukan anak usia 5 dan 6 tahun untuk satu atau dua tahun pendidikan, sementara kelompok bermain atau penitipan anak diperuntukan anak paling sedikit berusia tiga tahun
Pendidikan prasekolah pada tahun 1990-an tidak banyak berbeda dari pendidikan prasekolah pada tahun 60-an bahkan sebelumnya, yaitu selalu menarik perhatian orang tua, masyarakat maupun pemerintahsebagai pengambil keputusan, Mereka menyadari bahwa kualitas masa awal anak (early childhood) termasuk masa prasekolah merupakan cermin kualitas bangsa di masa yang akan datang. Khususnya para orang tua makin lama makin menyadari betapa pentingnya hubungan orang tua-anak yang kelak akan mewarnai hubungan anak dengan lingkungannya, teman sebaya, guru maupun atasannya.
Seringkali apa yang dimaksudkan dengan pendidikan prasekolah sangat simpang siur. Masing-masing orang mempunyai pengertian yang tidak sama sehingga akan mengaburkan arah pembicaraanya.
Batasan yang dipergunakan oleh The National Association for The Education of Young Children (NAEYC), dan para ahli pada umumnya sebagai berikut :
-          Yang dimaksudkan dengan “Early Chilhood” (anak masa awal) adalah anak sejak lahir sampai dengan usia delapan tahun. Hal tersebut merupakan pengertian yang baku yang dipergunakan oleh NAEYC. Batasan ini seringkali dipergunakan untuk merujuk anak yang belum mencapai usia sekolah dan masyarakat menggunakannya bagi berbagai tipe prasekolah (preschool).
-          Early Chilhood Setting (tatanan anak masa awal) menunjukkan pelayanan untuk anak sejak lahir sampai dengan delapan tahun di suatu pusat penyelenggaraan, rumah, atau institusi, seperti Kinder-garten, Sekolah Dasar dan program rekreasi yang menggunakan sebagian waktu atau penuh waktu.

Istilah lain yang sering digunakan untuk diskusi tentang pendidikan anak usia dini adalah “nursey school” atau “preschool” (prasekolah). Nursey school adalah program untuk pendidikan anak usia dua, tiga, dan empat tahun.[2]
Anak pra-sekolah adalah mereka yang berusia 3-6 tahun menurut Biechler dan Snowman. Sedangkan di Indonesia, umumnya mereka mengikuti program Tempat Penitipan Anak (3 bulan-5 tahun) dan Kelompok Bermain (usia 3 tahun), sedangkan pada usia 4-6 tahun biasanya mengikuti program taman kanak-kanak. Dari teori Piaget, ia membicarakan perkembangan kognitif, maka perkembangan kognitif anak masa pra sekolah berada pada tahap pra-operasional (2-7 tahun).

Karakteristik Anak Pra-sekolah
  1. Perkembangan Jasmani
Pada saat anak mencapai tahapan pra-sekolah (3-6 tahun) ada ciri yang jelas berbeda antara anak usia bayi dan anak pra sekolah. Perbedaannya terletak dalam penampilan, proporsi tubuh, berat, tinggi badan, dan keterampilan yang mereka miliki. Contohnya, pada anak pra sekolah telah tampak otot-otot tubuh yang berkembang dan memungkinkan bagi mereka melakukan berbagai keterampilan. Gerakan pada anak pra sekolah, lebih terkendali dan terorganisasi dalam pola-pola, seperti menegakan tubuh dalam posisi berdiri, mampu melangkahkan kaki dengan menggerakkan tungkai dan kaki. Terbentuknya pola-pola tingkah laku ini memungkinkan anak berespon terhadap berbagai situasi.
Perkembangan lain yang terjadi pada anak pra sekolah ialah umumnya jumlah gigi yang mencapai 20 buah. Otot dan system tulang akan terus berkembang sejalan dengan usia mereka. Kecepatan perkembangan jasmani dipengaruhi oleh gizi, kesehatan, dan lingkungan fisik lain misalnya tersedianya alat permainan dan kesempatan yang diberikan kepada anak untuk melatih berbagai gerakan.
Pada waktu anak berusia 3 tahun anak mampu melakukan gerakan melempar tampa kehilangan keseimbangan. Pada usia 5 tahun mereka meloncat dengan mempertahankan keseimbangannya, biasanya mereka sudah mampu membuat gambar, gambar orang. Pada usia 6 tahun diharapkan anak sudah mampu melempar dengan tujuan yang tepat dan mampu mengendarai sepeda roda dua.
  1. PerkembanganKognitif
Perkemabangan kognitif dinyatakan dengan pertumbuhan  kemampuan merancang, mengingat dan mencari penyelesaian masalah yang dihadapi. Pada anak yang berusia 0-2 tahun mulai lebih mampu memebedakan hal-hal yang diamati.
Perkembangna kognitif anak prasekolah termasuk kedalam pertengahan tahapan dari Pieget yaitu tahapan praoprasional atau fungsi simbolik. Setelah masuk pada tahapan praoperasional anak-anak mulai dapat belajar dengan menggunakan pemikirannya, tahapan bantuan kehadiran sesuatu dilingkungannya, anak mampu mngingat kembali simbol-simbol dan membanyangkan benda yang tidak tampak secara fisik.
  1. Perkembangan Bahasa
Anak prasekolah biasanya telah mamapu mengembangkan keterampilan berbicara melalui pembicraan yang dapat memikat orang lain.Mereka dapat menggunakan bahasa dengan berbagai cara antara lain, dengan  bertanya, melakukan dialog dan menyanyi.

  1. Perkembangan Emosi dan Sosial
Dalam periode prasekolah, anak dituntut menyesuaikan diri dengan berbagai orang dari  berbagai tatanan, yaitu keluarga, sekolah dan teman sebaya. Perkembangan social biasanya dimaksudkan, sebagai perkembangan tingkah laku anak dalam menyesuaikan diri dengan aturan-aturan yang berlaku didalam masyarakat dimana anak berada.
Perkembangan sosial diperoleh dari kematangan dan kesempatan belajar dari berbagai respon lingkungan terhadap anak. pada usia 2 tahun anak-anak mulai memantapkan identitas dirinya dan selalu ingin menunjukkan kemauan dan kemampuannya dengan pernyataan “inilah saya, saya bisa”. Tidak jarang pada saat tersebut anak dinilai sebagai anak keras kepala.[3]
B.  LANDASAN UNDANG-UNDANG PENDIDIKAN PRASEKOLAH
Dalam Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasa 12 ayat (2) menyebutkan : “Selain jenjang pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat diselenggarakan pendidikan prasekolah”, adalah pendidikan yang diselenggarakan untuk mengembangkan pribadi, pengetahuan, dan keterampilan yang melandasi pendidikan dasar serta mengembangkan diri secara utuh sesuai dengan asas pendidikan sedini mungkin dan seumur hidup.
Ketentuan Pasal 12 Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional tersebut pada prinsipnya menetapkan bahwa selain jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi, dapat diselenggarakan pendidikan prasekolah, yang syarat dan tata cara pendirian, bentuk satuan, lama pendidikan serta penyelenggaraannya ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Sehubungan dengan itu, Peraturan Pemerintah ini disusun untuk mengatur pendidikan prasekolah. Pengaturan tersebut sangat penting dalam usaha memberikan landasan bagi penyelenggaraan pendidikan prasekolah, sehingga arah dan tujuan pendidikan prasekolah dapat mencapai tujuan pendidikan sebagaimana yang ditetapkan dalam Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Di dalam PP RI No. 27 Tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah. Bab I Pasal 1 ayat (2) dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan Taman Kanak-Kanak (TK) adalah salah satu bentuk pendidikan prasekolah yang menyediakan program pendidikan dini bagi anak usia empat tahun sampai memasuki pendidikan dasar. Lebih lanjut dijelaskan bahwa satuan pendidikan prasekolah meliputi Taman Kanak-Kanak, Kelompok Bermain dan Penitipan Anak. Taman Kanak-Kanak terdapat di jalur pendidikan sekolah sedangkan Kelompok Bermain dan Penitipan Anak terdapat di jalur pendidikan luar sekolah.[4]
C.  PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PRASEKOLAH
A.   Rancangan Kurikulum
Yang dimaksud kurikulum adalah suatu perencanaan pengalaman belajar secara tertulis. Kurikulum itu akan menghasilkan suatu proses yang akan terjadi seluruhnya di sekolah. Rancangan tersebut akan merupakan silabus yang berupa daftar judul pelajaran dan urutannya akan tersusun secara runtut sehingga merupakan program.[5]
Untuk dapat memberikan pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan, maka setiap sekolah perlu mempunyai sebuah rencana pendidikan yang sisitematis, yaitu disebut kurikulum.
Adapun batasan kurikulum yang sesuai dengan pendidikan TK adalah seluruh usaha atau kegiatan sekolah untuk merangsang anak supaya belajar, baik didalam maupun di luar kelas. Seluruh pengembangan aspek seseorang dijangkau dengan kurikulum ini, baik aspek fisik, intelektual, social maupun emosional. 

Adapun bentuk-bentuk kurikulum, sebagai berikut :
  1. Kurikulum yang sifatnya terpisah-pisah, artinya setiap mata pelajaran mempunya kurikulum resendiri dan satu dengan yang lainnya tidak ada kaitannya.
  2. Kurikulum yang saling berkaitan. antara masing-masing mata pelajaran ada kaitannya, antara dua mata pelajaran masih ada kaitannya.
  3. Kurikulum yang terintegrasikan. dalam kurikulum ini anak mendapatkan pengalaman yang luas, karena antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lain saling berkaitan, kurikulum model integrasi lebih sulit untuk dirancang.[6] 
B.   Beberapa Alternative Program Pendidikan Anak Prasekolah
1.      Day Care/ Tempat Penitipan Anak (TPA)
Day Care adalah sarana pengasuhan anak dalam berbentuk kelompok, yang biasanya dilaksanakan pada saat jam kerja. Day care merupakan upaya yang terorganisasi untuk mengasuh anak-anak di luar rumah mereka selama beberapa jam dalam satu hari bilamana asuhan orang tua kurang dapat dilaksanakan secara lengkap. Dalam hal ini pengertian Day Care hanya sebagai pelengkap terhadap asuhan orang tua dan bukan sebagai pengganti asuhan orang tua
Sarana penitipan anak ini biasanya dirancang secara khusus baik program, staf maupun pengadaan alat-alatnya. Tujuan sarana ini untuk membantu dalam hal pengasuhan anak-anak yang ibunya bekerja. Semula sarana penitipan anak diperlukan bagi ibu dari kalangan keluarga yang kurang beruntung, sedangkan sekarang sarana ini lebih banyak diminati oleh keluarga menengah dan atas yang umumnya disebabkab kedua orang tuanya bekerja. 
Pada kenyataannya dari lapangan ada beberapa alasan dari para ibu yang menyerahkan anaknya kepada TPA, antara lain:
§      Kebutuhan untuk melepaskan diri sejenak dari tanggung jawab dalam hal mengasuh anak secara rutin.
§      Keinginan untuk menyediakan kesempatan bagi anak untuk berinteraksi dengan teman seusianya dan tokoh pengasuh lain.
§      Agar anak  mendapat stimulasi kognitif secara baik
§      Agar anak mendapat pengasuh pengganti sementara
2.      Pusat Pengembangan Anak yang Terintegrasi
Pusat ini biasanya memberikan berbagai pelayanan yang dibutuhkan anak dengan cara mengkombinasikan sarana pendidikan prasekolah dengan pemberian gizi, kesehatan dan kadang-kadang dengan sarana-sarana yang lain dalam pusat tersebut.
3.      Pusat Kesehatan atau Gizi
Pelayanan ini meliputi kesehatan ibu yang mengandung atau kesehatan janin, yang berarti perkembangan anak sejak ada di dalam kandungan. Dalam pelayanan ini kesehatan ibu khususnya wanita menjadi tujuan utama. Para ibu hamil mendapat perhatian melalui pemeriksaan berkala, khususnya pada tiga bulan terakhir.  
4.   Pendidikan Ibu dengan Anak Prasekolah
Para ibu adalah subjek utama dalam pengasuhan anak, dalam hal ini ibu yang memiliki anak balita mendapatkan penyuuhan sehingga pengetahuan dan keterampilan ibu dalam mengasuh anak akan meningkat. Umumnya sarana pendidikan ini diselenggarakan oleh masyarakat dari Negara yang sedang berkembang atau pendidikan yang diberikan kepada kaum minoritas atau mereka yang kurang beruntung.
5.      Program Melalui Media Massa
Sarana media massa sebagai bentuk alternative bagi para peserta program pendidikan bagi para orang tua mengenai pendidikan anak balita. Pendekatan dengan media massa akan menjangkau peserta melalui media cetak, televisi dan radio.
6.      Program Dari Anak untuk Anak
Hampir di seluruh dunia, anak yang lebih muda diasuh oleh kakak mereka di samping orang tua mereka sendiri. Pengasuhan yang dilakukan oleh kakak, biasanya terjadi secara spontan. Dengan demikian dapat diajarkan pada para saudara yang lebih tua tentang vaksinasi, gizi, mendorong adik untuk berbicara, mengajak bermain dan menyuapi adik.
7.      Head Start (di Amerika)
Dimulai pada tahun 1965 yang dibuka selama 8 minggu dalam musim panas untuk anak yang berasal dari keluarga yang kondisi ekonomi dan pendidikannya kurang mampu.
8.      Kindergarten atau Taman Kanak-Kanak
Kindergarten atau TK adalah buah karya dari Froebel dari Jerman. Pada tahun 1860 elizabeth Peabody adalah orang pertama yang membuka Taman Kanak-Kanak di Amerika Serikat, setelah meninjau Froebel di Jerman. Kindergarten dari Froebel dipruntukkan bagi anak yang berusia antara 3 dan 7 tahun.     
9.   Berbagai Model Sekolah untuk Anak Prasekolah
  1. Model Montessori
  2. Model Tingkah laku 
  3. Model ‘Interactionist’ (Interaksionis) 
10.       Anak dengan Kebutuhan Khusus
Baik pendidik maupun masyarakat menyadari bahwa dalam masyarakat ada anak yang memiliki kebutuhan khusus yang berbeda jika dibandingkan dengan anak kebanyakan, yaitu mungkin anak tersebut cacat, berbakat, atau memilii kemampuan yang lebih.
Bentuk sarana pendidikan yang memberikan kesempatan baik anak normal dengan anak cacat atau khusus belajar bersama dalam satu sekolah disebut “main streaming”.[7]
D.  PENDIDIKAN PRASEKOLAH DI INDONESIA
Pada tanggal 3 Juli 1922, perguruan nasional Taman Siswa, yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara membuka sekolah anak-anak kecil di bawah umur 7 tahun, yang dinamakan Taman Lare atau Taman Anak. Selanjutnya nama sekolah ini diganti menjadi “Taman Indria”. Alasannya adalah karena dipandang dari sudut psikologi, jiwa anak-anak di bawah umur 7 tahun itu semata-mata masih berada dalam periode perkembangan panca-inderanya. Dasar inilah yang dipakai Frobel untuk memberi bentuk, isi dan metodenya pada Kindergarten. Dasar itulah pula yang oleh Montessori digunakan untuk mewujudkan cita-cita pendidikannya bagi anak-anak.
Dasar-dasar sistem pendidikan Taman Siswa bagi anak-anak di bawah umur 7 tahun ini memodifikasi metode Frobel dan metode Montessori, dan menyesuaikannya dengan adat Timur. Taman Indria inilah yang merupakan awal mula terbentuknya sekolah Taman Kanak-kanak di Indonesia.
Antara tahun 1922-1951 terjadi krisis ekonomi dan krisis pendidikan di Indonesia, sehingga perkumpulan wanita yang mendirikan Taman Kanak-kanak pun akhirnya gagal dan tidak berjalan panjang. Namun pada tahun 1957, didirikanlah TK dalam sebuah garasi yang didukung para ibu pada saat itu, dan selanjutnya berdirilah TK-TK lain di Indonesia. Selain itu, berdiri pula Yayasan Beribu yang dipelopori oleh Ibu Mary Saleh, yang bertujuan membuat kursus guru-guru TK.
Sebetulnya, yang menggagas berdirinya Yayasan Beribu adalah seorang Belanda yang bernama Rina Marsaman. Gagasan ini bermula untuk mengisi waktu luang para ibu yang ditinggal perang oleh suaminya, untuk mengajar anak-anak di sekitarnya. Mary Saleh, Ema P, dan Ema S. menjadi 3 wanita yang belajar langsung di Eropa untuk pengetahuannya dalam mendirikan Yayasan Beribu ini. Yayasan Beribu telah berhasil mencetak guru-guru TK yang selanjutnya tersebar di berbagai TK di Indonesia.
Sejak tahun 1957 dan sejak PP nomor 27 tahun 1990, TK di Indonesia telah sangat pesat dalam segi jumlah sampai sekarang. Menurut PP tersebut : pendidikan prasekolah berguna untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak didik di luar lingkungan keluarga sebelum memasuki pendidikan dasar, yang diselenggarakan di jalur pendidikan sekolah atau di jalur pendidikan luar sekolah, dan Taman Kanak-kanak adalah salah satu bentuk pendidikan prasekolah yang menyediakan program pendidikan dini bagi anak usia empat tahun sampai memasuki pendidikan dasar.
Pada tahun 2000, pemerintah mulai memperhatikan TK, dan sejak tahun 2002 muncullah berbagai variasi TK seperti TK Plus, Terpadu, Unggul dan TK Full Day; namun Yayasan Beribu tetap sebagai pelopor berdirinya pendidikan guru TK di Indonesia.[8]
.








BAB III
PENUTUP
Pendidikan prasekolah adalah pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak didik di luar dilingkungan keluarga sebelum memasuki pendidikan dasar, yang diselenggarakan di jalur pendidikan sekolah atau di jalur pendidikan luar sekolah. Pendidikan prasekolah antara lain meliputi pendidikan Taman Kanak-kanak, terdapat di jalur sekolah, dan Kelompok Bermain, serta Penitipan Anak di jalur luar sekolah.
Anak pra-sekolah adalah mereka yang berusia 3-6 tahun menurut Biechler dan Snowman. Sedangkan di Indonesia, umumnya mereka mengikuti program Tempat Penitipan Anak (3 bulan-5 tahun) dan Kelompok Bermain (usia 3 tahun), sedangkan pada usia 4-6 tahun biasanya mengikuti program taman kanak-kanak.
Landasan Undang-Undang Pendidikan Prasekolah yaitu terdapat pada Pasal 12 Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional tersebut pada prinsipnya menetapkan bahwa selain jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi, dapat diselenggarakan pendidikan prasekolah, yang syarat dan tata cara pendirian, bentuk satuan, lama pendidikan serta penyelenggaraannya ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
Adapun bentuk-bentuk kurikulum yang digunakan yaitu kurikulum yang sifatnya terpisah-pisah, kurikulum yang saling berkaitan, kurikulum yang terintegrasikan.
Pada tanggal 3 Juli 1922, perguruan nasional Taman Siswa, yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara membuka sekolah anak-anak kecil di bawah umur 7 tahun, yang dinamakan Taman Lare atau Taman Anak. Dan pada tahun 2000, pemerintah mulai memperhatikan TK, dan sejak tahun 2002 muncullah berbagai variasi TK seperti TK Plus, Terpadu, Unggul dan TK Full Day; namun Yayasan Beribu tetap sebagai pelopor berdirinya pendidikan guru TK di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Patmonodewo, Soemiarti. Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta : Rineka Cipta, 2003
Sudono, Anggini. Pedoman Pendidikan Prasekolah. Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia, 1991

http://ganataedu blogspot.com/2009/02/sejarah-pendidikan-prasekolah.html, 15 Maret 2010




[1] Anggini Sudono, Pedoman Pendidikan Prasekolah, (Jakarta:Gramedia Widiasarana Indonesia, 1991), h. 7
[2] Soemiarti Patmonodewo, Pendidikan Anak Prasekolah, (Jakarta : Rineka Cipta, 2003), h. 41-43
[5] Soemiarti Patmonodewo, Pendidikan Anak Prasekolah, h. 54
[6] Ibid, h. 56-57
[7] Ibid, h. 77-98
[8] http://ganataedu blogspot.com/2009/02/sejarah-pendidikan-prasekolah.html, 15 Maret 2010

2 komentar: