Selasa, 19 April 2011

PROFESIONALISME KEPEMIMPINAN


BAB I
PENDAHULUAN


Profesi menunjuk pada suatu pelayanan atau jabatan yang menuntut kehlian, tanggung jawab, dan kesetiaan terhadapnya. Tegasnya lagi, suatu profesi secara teori tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang tanpa melalui pendidikan atau latihan dalam keahlian tertentu dan kurun waktu yang ditentukan pula. Profesionalitas menunjuk pada kualitas atau sikap pribadi individu terhadap suatu pekerjaan. Dapat dimaknai Profesionalisme menunjuk sebagai pandangan atau paham tentang keprofesian. Profesionalisme menunjuk pada (a) derajat penampilan seseorang sebagai profesional; tinggi, rendah, sedang, dan (b) sikap dan komitmen anggota profesi untuk bekerja berdasarkanstandar yang paling ideal darai kode etik profesinya.
Suatu profesi berawal muncul dari adanya public trust atau kepercayaan masyarakat. Kepercayaan ini yang menetapkan suatu profesi dan membolehkan sekelompok ahli untuk bekerja secara profesional. Kepercayaan masyarakat yang menjadi penopang suatu profesi didasari oleh tiga perangkat keyakinan. Pertama, kepercayaan masyarakat terjadi dengan adanya suatu persepsi tentang kompetensi. Keyakinan ini mengarahkan pada suatu pemahaman bahwa seorang profesional adalah yang memiliki keahlian khusus dan kompetensi yang belum ditemukan di masyarakat luar. Kedua, adanya persepsi masyarakat bahwa kelompok-kelompok profesional mengatur dirinya dan lebih lanjut diatur masyarakat berdasarkan minat dan kepentingan masyarakat. Ketiga, persepsi yang melahirkan kepercayaan masyarakat itu ialah anggota-anggota suatu profesi memiliki motivasi untuk memberikan pelayanan kepada orang-orang dengan siapa mereka bekerja. Persepsi ini menyangkut suatu keyakinan terhadap adanya kodifikasi mengenai prilaku professional. Kodifikasi dalam konteks ini merupakan standar (ukuran-ukuran) prinsip umum yang jelas, yang mengatur para professional bersangkutan.
            Dalam makalah ini akan dibahas mengenai; Profesionalisme kependidikan dalam ilmu pendidikan, Guru dan profesi, Teori motivasi, Teori Maslow, Teori Mc. Celland, Teori X dan Teori Y, Motivasi dan etos kerja tenaga pendidik dan kependidikan.

BAB II
PROFESIONALISME KEPEMIMPINAN
DAN
MOTIVASI DALAM KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN

2.1 PROFESIONALISME KEPEMIMPINAN
2.1.1 Profesionalisme Kependidikan dalam Ilmu Pendidikan
Profesionalisme merupakan paham yang mengajarkan bahwa setiap pekerjaan harus dilakukan oleh orang yang profesional. Orang profesional adalah orang yang memiliki profesi. Cece wijaya mengatakan bahwa profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian dari para anggotanya. Artinya bahwa pekerjaan itu tidak dapat dikerjakan oleh sembarang orang yang tidak terlatih dan tidak dipersiapkan secara khusus untuk melakukan pekerjaan tersebut. Sementara menurut Nana Sujana bahwa pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dikerjakan oleh mereka yang secara khusus dipersapkan untuk itu.
Ahmad Tafsir menyebutkan, bahwa untuk menerapkan profesionalitas dalam pengelolaan pendidikan harus diupayakan secara maksimal dan serempak pada semua unsur yang meliputi; profesionalitas pada tingkat yayasan, profesionalitas pada tingkat kepala sekolah, profesionalitas pada tingkat tenaga pengajar atau guru, dan profesionalitas pada tenaga ketatausahaan (administrasi).
1)      Profesionalitas pada tingkat Yayasan.
Sekolah biasanya berada di bawah pengelolaan dan tanggungjawab yayasan, disamping sekolah, yayasan juga biasanya mengurus kegiatan-kegiatan lain seperti koperasi, rumah sakit atau sekolah-sekolah lain. Dalam hal seperti ini, pengurus yayasan tidak harus profesional dalam segala bidang garapan itu, pengurus yayasan cukup memenuhi syarat satu saja, yaitu rasa pengabdian yang besar kepada masyarakat. Dalam hal seperti ini maka yayasan harus menugaskan seorang yang profesional untuk setiap bidang garapan tersebut. Pengurus sekolah sebaiknya tidak menjadi kepala sekolah, karena ia harus memikirkan perkembangan sekolah dan yayasan-yayasan lain yang ada di bawah naungannya. Hubungan kerjanya lebih banyak degan pengurus yayasan dan dengan masyarakat. Sekolah hanya salah satu titik saja dalam pemikirannya. disamping itu pemikiran pengurus akan lebih luas jika tidak terlibat dengan persoalan-persoalan rutin yang biasanya ada dalam setiap sekolah.
2)      Profesionalitas pada tingkat pimpinan sekolah
Dalam hal ini yang harus benar-benar diperhatikan oleh pengurus yayasan adalah memilih kepada sekolah yang benar-benar profesional, dengan keahliannya itu ia dapat meningkatkan mutu tenaga guru. Akan tetapi bila sebaliknya guru-guru yang lebih profesional yang terjadi adalah bentrokan kebijakan. Apa yang akan dilakukan oleh guru kadang diveto oleh kepala sekolah. Veto diberikan oleh kepala sekoah karena ia kurang ahli dan kurang profesional. Bila ini terjadi maka sekolah itu akan kacau. Guru akan bekerja dengan kebimbangan, bahkan akan bekerja dalam keadaan bentrok kejiwaan. Ini akan berbahaya terhadap peningkatan mutu sekolah. Berbahaya sekali karena keadaan itu bisa mempengaruhi guru. Guru yang profesional itu lama-lama akan menurun kualitas profesionalnya, bahkan lama-lama ia tidak akan profesional.
3)      Profesionalitas pada tingkat tenaga pengajar
Penerapan profesionalisme pada tingkat ini harus dimulai dari cara penerimaan tenaga guru. Kadang-kadang ada yayasan atau kepala sekolah yang berpendapat bahwa untuk sementara terima saja asal ada yang melamar, apabila sekolah sudah stabil maka akan diganti dengan guru yang profesional. Kebijakan ini adalah keliru. Kenyataannya ialah bahwa memecat guru itu tidaklah mudah, karena pemecatan itu akan mengakibatkan hal-hal yang berbahaya bagi lembaga, antara lain ialah guru yang sudah dipecat itu mempengaruhi guru yang belum atau tidak dipecat. Ia menyebarkan pendapat-pendapat yang biasanya merugikan fihak sekolah. Oleh sebab itu harus berhati-hati dalam pengangkatan guru. Kebijakan tersebut di atas dapat saja dilakukan dengan catatan harus ada ketetapan yang tegas, bila tidak meningkat profesinya atau bila sekolah perlu mengurangi atau mengganti guru, maka guru harus berjanji bersedia diberhentikan tanpa syarat apa-apa. Dalam peningkatan profesionalitas guru, maka hal-hal yang harus dilakukan antara lain adalah dengan memberi kesempatan untuk melanjutkan belajar di sekolah formal, atau mengambil kursus, dan yang paling sederhana ialah kewajiban membaca buku. Bentuk kegiatan peningkatan profesi yang paling sederhana dan paling mudah, juga paling murah dan efektif ialah pelatihan yang diselenggarakan oleh sekolah sendiri. Misalnya dengan memberikan kursus tambahan pada bidang-bidang studi tertentu dengan mendatangkan guru ahli dari luar, atau salah seorang guru yang ada yang dianggap paling ahli untuk memberikan pelajaran. Bentuk-bentuk program peningkatan mutu guru itu banyak sekali, dan semakin lama akan semakin berkembang. Disinilah akan kelihatan mutu kepala sekolah, apakah ia profesional atau tidak. Bila ia kepala sekolah yang profesional, ia amat mengerti program mana yang paling penting dilaksanakan sesuai dengan kondisi sekolah yang lebih mempertanggungjawabkannya.
4)      Profesionalitas Tenaga Tata Usaha Sekolah.
Pada dasarnya kebutuhan akan ketatausahaan untuk suatu sekolah tidaklah terlalu banyak. Banyaknya pegawai tata usaha tidak menjamin beresnya tata usaha sekolah. Yang menjamin ialah tingkat profesionalisme yang tinggi. Apalagi pada zaman sekarang dikala peralatan bantu (komputer misalnya) sudah semakin canggih.
Perencanaan ketatausahaan sekolah seluruhnya adalah tugas kepala sekolah mencakup jumlahnya dan bidang tugasnya. Tidak dapat dibuat teori baku tentang jumlah dan tugas tata usaha sekolah. Ini disebabkan oleh kondisi dan program sekolah tidaklah sama. yang dapat diteorikan ialah bahwa tata usaha sekolah harus mampu memberikan pelayanan selengkap-lengkapnya terhadap kepala sekolah, guru dan orang tua murid. Jika disingkat maka tugas tata usaha sekolah ialah melakukan semua tugas yang diperintahkan oleh kepala sekolah,maka dalam hal ini kepala sekolah juga dituntut untuk profesional.
Dalam pengembangan profesionalisme kependidikan tersebut diperlukan pemantapan kompetensi keguruan. Menurut beberapa ahli pendidikan, misalnya Robert Houton, mengartikan kompetensi sebagai berikut; “Competence is eduquency for a task or as possesion of required knowledge, skill and abilities” (kompetensi adalah kemampuan yang memadai untuk melaksanakan tugas atau memiliki pengetahuan, ketrampilan dan kecakapan yang dipersyaratkan untuk itu.
Kompetensi itu tergambar di dalam pelaksanaan tugas guru sehari-hari yang bercirikan pada tiga kemampuan profesional atau yang disebut dengan The Teaching Triad, yaitu :
1. Kepribadian guru yang unik dapat mempengaruhi murid yang dikembangkan terus menerus sehngga ia benar-benar terampil dengan tugasnya; yaitu a) Memahami dan menghargai tiap potensi dari tiap murid, b) Membina situasi sosial yang meliputi interaksi belajar mengajar yang mendorong murid dalam peningkatan kemampuan memahami pentingnya kebersamaan dan kesepahaman arah pemikiran dan perbuatan di kalangan murid, c) Membina perasaan saling mengerti. saling menghormati dan saling bertanggung jawab dan percaya mempercayai antara guru dan murid.
2. Penguasaan ilmu pengetahuan yang mengarah kepada spesialisasi ilmu yang diajarkan kepada murid.
3. Ketrampilan dalam mengajarkan bahan pelajaran, terutama menyangkut perencanaan program satuan pelajaran dan menyusun keseluruhan kegiatan untuk satuan pelajaran menurut waktu. disamping itu terampil menggunakan alat-alat bantu bagi murid dalam proses belajar mengajar.[1]

2.1.2 Guru dan Profesi
            Profesi pada hakekatnya adalah sikap yang bijaksana (informend responsiveness) yaitu pelayanan dan pengabdian yang dilandasi oleh keahlian, kemampuan, teknik dan prosedur yang mantap diiringi sikap kepribadian tertentu.
            MC. Cully mengungkapkan suatu pengertian bahwa di dalam suatu pekerjaan profesional menuntut dipergunakannya teknik atau prosedur yang berlandaskan intelektualitas yang secara sengaja harus dipelajari kemudian secara langsung dapat diabdikan pada orang lain. Adanya landasan intelektualitas ini membedakan seorang yang professional dengan teknisi, sebab defenisi di atas memberikan gambaran secara professional dalam melakukan pekerjaan serta dituntut memiliki filosofi yang mantap dan penuh pertimbangan rasional.[2]
            Pendidikan yang baik sebagaimana yang diharapkan masyarakat modern dewasa ini adalah model pendidikan yang mengharuskan tenaga kependidikan dan guru yang berkualitas dan professional.
            Robert W. Richey mengemukakan ada tujuh ciri-ciri profesionalisasi jabatan guru, yaitu :
  1. Guru bekerja semata-mata hanya memberi pelayanan kemanusiaan bukan usaha untuk kepentingan pribadi.
  2. Guru secara hukum dituntut memenuhi berbagai persyaratan untuk mendapatkan lisensi mengajar serta persyaratan yang ketat untuk menjadi anggota profesi keguruan.
  3. Guru dituntut memliki pemahaman serta keterampilan yang tinggi.
  4. Guru dalam organisasi profesional memiliki publikasi yang dapat melayani para guru sehingga tidak ketinggalan bahkan selalu mengikuti perkembangan yang terjadi.
  5. Guru selalu diusahakan mengikuti kursus-kursus, workshop, seminar, konvensi dan terlibat secara luas dalam berbagai in service.
  6. Guru diakui sepenuhnya sebagai suatu karier hidup (alive carrier).
  7. Guru memiliki nilai dan etika yang berfungsi secara nasional maupun secara lokal.
D. Wetsby Gibson mengemukakan bahwa ciri keprofesian ini mengacu pada pengakuan masyarakat luas dan melindungi anggotanya, tegasnya ciri keprofesian dikemukakannya adalah sebagai berikut :
  1. Pengakuan oleh masyarakat terhadap layanan tertentu yang hanya dapat dilakukan oleh kelompok pekerja profesi.
  2. Memiliki sekumpulan bidang ilmu yang menjadi landasan sejumlah teknik dan prosedur yang unik.
  3. Diperlukan persiapan yang sistematis sebelum melaksanakan pekerjaan profesional.
  4. Memliki mekanisme untuk menyaring sehingga yang berkompeten saja yang diperbolehkan bekerja.
  5. Memiliki organisasi profesional untuk melindungi kepentingan kelompok anggotanya dari saingan kelompok luar dan berusaha meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.[3]
Soejono menyatakan beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh seorang guru profesional antara lain yaitu;
a) Tentang umur, harus sudah dewasa. Karena tugas mendidik adalah tugas yang amat penting karena menyangkut perkembangan seseorang atau menyangkut nasib seseorang. Oleh karena itu, tugas tersebut harus dilakukan secara bertanggung jawab, dan itu hanya dapat dilakukan oleh orang yang telah dewasa. Dalam dunia pendidikan orang sudah dianggap dewasa dalam hal umurnya ketika berumur 21 bagi laki-laki dan 18 bagi perempuan.
b) Tentang kesehatan, harus sehat jasmani dan rohani. Sebab jasmani yang tidak sehat akan menghambat pelaksanaan pendidikan, bahkan dapat membahayakan anak didik bila mempunyai penyakit menular. Dari segi rohani, orang gila misalnya, akan sangat berbahaya bila ia mendidik. Orang idiot tidak mungkin mendidik karena ia tidak akan mampu bertanggung jawab.
c) Tentang kemampuan mengajar, ia harus ahli. Seorang pengajar harus mempelajari dan mengetahui teori-teori ilmu pendidikan, teknik dan metode pengajaran, dan sebagainya.
d) Harus berkesusilaan dan berdedikasi tinggi, syarat ini penting untuk dimiliki dalam melaksanakan tugas-tugas mendidik, karena bagaimana guru akan memberikan contoh, jika ia sendiri tidak baik perangainya. Dedikasi juga diperlukan dalam rangka meningkatkan mutu mengajar.[4]
Mengajar sebagai profesi menjadikan tugas guru secara langsung menyentuh manusia menyangkut kepentingan dan kebutuhannya untuk tumbuh dan berkembang kea rah kedewasaan dan kemandirian melalui proses pembelajaran.
            Pengajaran yang dilakukan oleh guru itu dilaksanakan dalam interaksi edukatif antara guru dan murid yaitu antara keadaan internal dan proses kognitif siswa. Proses kognitif tersebut menghasilkan suatu hasil belajar yang terdiri dari informasi verbal, keterampilan intelek, keterampilan motorik, dan sikap. Karena itu guru menempati posisi yang lebih penting, karena ia akan membawa murid-muridnya ke arah tujuan yang telah ditetapkan. Fungsi guru dalam proses belajar mengajar adalah sebagai komunikator yang menghubungkan antara murid dengan guru.[5]
            Guru sebagai suatu profesi melaksanakan tugasnya dilandasi atas panggilan hati nurani, ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni yang bertumpu pada pengabdian dan sikap kepribadian yang mulia. Pada hakekatnya tugas guru tidak saja diperlukan sebagai suatu tugas professional, tetapi juga sebagai tugas profesi utama menyiapkan tenaga pembangunan nasional.[6]

2.2 MOTIVASI DALAM KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN
2.2.1 Teori Motivasi
          Apabila berbicara mengenai motivasi, salah satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan ialah bahwa tingkat motivasi berbeda antara seorang dengan orang lain.
            Yang dimaksud dengan motivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan seseorang anggota organisasi mau dan rela untuk mengerahkan kemampuan dalam bentuk keahlian atau keterampilan, menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai sasaran yang telah ditentukan sebelumnya.
            Memotivasi para bawahan oleh pemimpin sejak zaman dulu sudah didasarkan pada teori-teori motivasi, meskipun dengan menggunakan istilah lain.
            Ada dua jenis motivasi yaitu motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang datang dari dalam diri seseorang, ada yang bersifat positif dan negatif. Misal, motivasi intrinsik positif ialah seseorang yang berhasil menunaikan kewajibannya dengan sangat memuaskan dan memperoleh dorongan positif untuk bekerja lebih keras lagi di masa yang akan datang sehingga ia meraih keberhasilan yang lebih besar dalam karirnya. Sedangkan contoh motivasi intrinsik negatif ialah jika seseorang kurang berhasil melakukan tugasnya sehingga mendapat teguran dari atasannya, oleh yang bersangkutan dijadikan dorongan untuk memperbaiki kesalahan sehingga di masa depan kesalahan tersebut tidak terulang kembali.
            Sedangkan motivasi ekstrinsik berasal dari lingkungan di luar diri seseorang. Misalnya tenaga kependidikan bekerja karena ingin mendapat pujian atau ingin mendapat hadiah dari pemimpinnya.[7]
            Motivasi merupakan salah satu faktor yang turut menentukan keefektifan kerja dan semangat penting dalam suatu lembaga. Para tenaga kependidikan akan bekerja dengan sungguh-sungguh apabila memiliki motivasi yang tinggi. Jika para tenaga kependidikan memiliki motivasi yang positif, maka ia akan memperlihatkan minat, mempunyai perhatian, dan ingin ikut serta dalam suatu tugas atau kegiatan. Dengan kata lain seorang tenaga kependidikan akan melakukan semua pekerjaannya dengan baik apabila ada faktor pendorongnya (motivasi). Dalam kaitan ini, pemimpin dituntut untuk memiliki kemampuan membangkitkan motivasi para tenaga kependidikannya sehingga mereka dapat meningkatkan kinerjanya.[8]

2.2.2 Teori Maslow, Teori Kebutuhan Mc Celland dan Teori X dan Teori Y
1. Teori Maslow
            Maslow merupakan tokoh yang mencetuskan teori hierarki kebutuhan. Menurut Maslow, hierarki kebutuhan sesungguhnya dapat digunakan untuk mendeteksi motivasi manusia.
            Maslow membagi kebutuhan manusia ke dalam lima kategori kebutuhan, yaitu : physiological, safety, social, esteem, self actualization needs.
  1. Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs)
Kebutuhan ini paling rendah tingkatannya dan kebutuhan dasar yang bersifat primer dan vital menyangkut fungsi-fungsi biologis, misalnya kebutuhan akan pangan, sandang, papan, dan kesehatan.
  1. Kebutuhan Rasa Aman (Safety Needs) dan Kebutuhan Perlindungan (Security Needs)
Kebutuhan ini adalah kebutuhan yang mendorong individu untuk memperoleh ketentraman, kepastian, dan keteraturan dari keadaan lingkungannya. Seperti, perlindungan dari bahaya dan ancaman, kelaparan, serta perlakuan tidak adil.
  1. Kebutuhan Kasih Sayang (Belongingness and Love  Needs)
Kebutuhan ini mendorong individu untuk mengadakan hubungan efektif atau ikatan emosional dengan individu lain. Misalnya, kebutuhan akan dicintai, diterima dan diakui sebagai anggota kelompok, rasa setia kawan dan kerjasama.
  1. Kebutuhan akan Penghargaan (Esteem Needs)
Misalnya, kebutuhan dihargai karena prestasi, kemampuan, status, pangkat dan mendapat penghargaan atas apa-apa yang dilakukannya.
  1. Kebutuhan akan Aktualisasi Diri (Need for Self Actualization)
Kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang paling tinggi dan akan muncul apabila kebutuhan yang ada di bawahnya sudah terpenuhi dengan baik. Misalnya, mempertinggi potensi-potensi yang dimiliki, mengembangkan diri secara maksimum, kretivitas dan ekspresi diri.
            Model hierarki kebutuhan dari Maslow menyatakan bahwa seseorang tidak akan memenuhi pada tingkat yang lebih tinggi jika kebutuhan pada tingkat yang lebih rendah tidak terpenuhi.[9]
            Teori Maslow ini dapat dipergunakan sebagai pegangan untuk melihat dan mengerti. Mengapa :
a.       Tenaga kependidikan yang sakit atau kondisi fisiknya tidak baik tidak memiliki motivasi untuk bekerja.
b.      Tenaga kependidikan lebih senang bekerja dalam suasana yang menyenangkan.
c.       Tenaga kependidikan yang merasa disenangi, diterima oleh teman dan pimpinannya memiliki minat untuk meningkatkan kinerjanya disbanding dengan tenaga kependidikan yang diabaikan atau dikucilkan.
d.      Keinginan tenaga kependidikan untuk mengetahui dan memahami sesuatu tidak selalu sama.[10]

2. Teori Kebutuhan Mc. Celland
            Inti teori ini terletak pada pendapat yang mengatakan bahwa pemahaman tentang motivasi akan semakin mendalam apabila disadari bahwa setiap orang mempunyai tiga jenis kebutuhan, yaitu :
  1. Kebutuhan untuk Berprestasi (Need for Achievement)
Dalam kehidupan organisasional, kebutuhan untuk berhasil biasanya tercermin pada adanya dorongan untuk meraih kemajuan dan mencapai prestasi sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Penetapan standar itu dapat bersifat intrinsik atau ekstrinsik, artinya seseorang dapat menentukan bagi dirinya sendiri standar karya yang ingin dicapainya.  Apabila seseorang tergolong sebagai insane yang maximalist, standar yang ditetapkannya bagi dirinya sendiri adalah standar yang tinggi bahkan mungkin melebihi standar yang ditetapkan secara ekstrinsik, yaitu oleh organisasi. Akan tetapi bila seseorang tergolong sebagai insane minimalist, tidak mustahil bahwa standar yang ditetapkannya sebagai pegangan lebih rendah dari standar yang ditetapkan secara ekstrinsik.
Berarti seseorang dengan nAch yang besar adalah orang yang berusaha berbuat sesuatu lebih baik dibandingkan dengan orang lain.
  1. Kebutuhan Kekuasaan (Need for Power)
Menurut teori ini, kebutuhan akan kekuasaan menampakkan diri pada keinginan untuk mempunyai pengaruh terhadap orang lain. Penelitian dan pengalamn menunjukkan bahwa setiap orang ingin berpengaruh terhadap orang lain dengan siapa ia melakukan interaksi.
Seorang dengan nPo yang besar biasanya menyukai kondisi persaingan dan orientasi status serta akan lebih memberikan perhatiannya pada hal-hal yang memungkinkannya memperbesar pengaruhnya terhadap orang lain, antara lain dengan memperbesar ketergantungan orang lain itu padanya.
  1. Kebutuhan untuk Berafiliasi (Need for Affiliation)
Kebutuhan akan afiliasi pada umumnya tercermin pada keinginan berada pada situasi yang bersahabat dalam interaksi seseorang dengan orang lain dalam organisasi, baik dengan teman sekerja yang setingkat atau atasan. Kebutuhan akan afiliasi biasanya diusahakan agar terpenuhi melalui kerjasama dengan orang lain, dan menghindari persaingan sejauh mungkin.[11]
 3. Teori X dan Teori Y
            Teori ini dikembangkan oleh Mc. Gregor yang terkenal dengan teori X dan teori Y dalam karyanya The Human Side of Enterprise.
            Menurut Mc. Gregor, teori X menganggap sebahagian manusia lebih suka diperintah serta tidak tertarik akan rasa tanggung jawab, dan masih bersifat anak-anak. Orang-orang yang tergolong dalam Teori X, pada hakekatnya tidak menyukai bekerja, berkemampuan kecil untuk mengatasi masalah-masalah organisasi, tetapi hanya membutuhkan motivasi fisiologis saja. Oleh karena itu perlu diawasi secara ketat.
            Teori Y adalah sebaliknya, manusia itu suka bekerja, dapat mengontrol diri sendiri, mempunyai kemampuan untuk berkreativitas. Oleh karena itu orang semacam ini tidak perlu diawasi secara ketat.
            Berdasarkan uraian-uraian tentang motivasi di atas dapat disimpulkan bahwa kebutuhan-kebutuhan manusia dibagi ke dalam dua jenis kebutuhan, yaitu kebutuhan primer (yang bersifat fisiologis) dan kebutuhan sekunder (yang bersifat sosio-psikologis). Motif manusia timbul berdasarkan pada kebutuhan hidup tersebut. Dengan demikian motif sangat berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang.[12]

2.2.3 Motivasi dan Etos Kerja Tenaga Pendidik dan Kependidikan
            Teori motivasi yang diuraikan di atas, terdapat beberapa prinsip yang dapat diterapkan untuk memotivasi tenaga kependidikan agar mau dan mampu meningkatkan kinerjanya, diantaranya :
a.       Tenaga kependidikan akan bekerja lebih giat apabila kegiatan yang dilakukannya menarik dan menyenangkan.
b.      Tujuan kegiatan harus disusun dengan jelas dan diinformasikan kepada tenaga kependidikan, sehingga mereka mengetahui tujuan dia bekerja. Tenaga kependidikan juga dapat dilibatkan dalam penyusunan tujuan tersebut.
c.       Para tenaga kependidikan harus selalu diberitahu tentang hasil dari setiap pekerjaannya.
d.      Pemberian hadiah lebih baik daripada hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan.
e.       Manfaatkan sikap-sikap, cita-cita dan rasa ingin tahu tenaga kependidikan.
f.       Usahakan untuk memperhatikan perbedaan individual tenaga kependidikan. Misalnya, perbedaan kemampuan, latar belakang dan sikap mereka terhadap pekerjaannya.
g.      Usahakan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kependidikan dengan jalan memperhatikan kondisi fisiknya, memberikan rasa aman, dan menunjukkan bahwa pemimpin memperhatikan mereka sehingga setiap tenaga kependidikan pernah memperoleh kepuasan dan penghargaan.
Uraian di atas menunjukkan bahwa untuk mengetahui produktivitas kerja tenaga kependidikan, maka perlu diadakan pengkajian terhadap komponen-komponen inti yaitu disiplin kerja, intensitas kerja, inisiatif kerja, suasana kerja yang kondusif, yang kesemuanya itu akan menumbuhkan ability dan motivasi.
            Dilihat dari karakteristik personil, maka produktivitas kerja berkaitan dengan kemampuan, keterampilan, kepribadian, dan motivasi untuk dapat melaksanakan tugas dengan baik. Dilihat dari proses, maka produktivitas kerja tercapai jika perilaku tenaga kependidikan dapat menunjukkan kecocokannya dengan standar yang telah ditentukan. Dilihat dari hasil, maka dalam menilai produktivitas kerja tenaga kependidikan hendaknya dilihat dari hasil nyata yang dikerjakan oleh tenaga kependidikan.
            Menurut Steers dalam Oedjoe untuk menilai kinerja yaitu kemampuan perangai dan minat seorang tenaga kependidikan, kejelasan penerimaan atas peranan seorang tenaga kependidikan dan tingkat motivasi tenaga kependidikan.[13]















BAB III
PENUTUP

Profesionalisme merupakan paham yang mengajarkan bahwa setiap pekerjaan harus dilakukan oleh orang yang professional. Dalam pengembangan profesionalisme kependidikan tersebut diperlukan pemantapan kompetensi keguruan.
Profesi pada hakekatnya adalah sikap yang bijaksana (informend responsiveness) yaitu pelayanan dan pengabdian yang dilandasi oleh keahlian, kemampuan, teknik dan prosedur yang mantap diiringi sikap kepribadian tertentu.
Guru sebagai suatu profesi melaksanakan tugasnya dilandasi atas panggilan hati nurani, ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni yang bertumpu pada pengabdian dan sikap kepribadian yang mulia.
            Diantara teori-teori motivasi yaitu Teori Maslow, Teori Mc. Celland, Teori X dan Teori Y. Untuk mengetahui produktivitas kerja tenaga kependidikan, maka perlu diadakan pengkajian terhadap komponen-komponen inti yaitu disiplin kerja, intensitas kerja, inisiatif kerja, suasana kerja yang kondusif, yang kesemuanya itu akan menumbuhkan ability dan motivasi.
Adapun prinsip yang dapat diterapkan untuk memotivasi tenaga kependidikan agar mau dan mampu meningkatkan kinerjanya, diantaranya ialah tenaga kependidikan akan bekerja lebih giat apabila kegiatan yang dilakukannya menarik dan menyenangkan.











DAFTAR PUSTAKA

Sagala, Syaiful. Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung : Alfabeta, 2000
Rahman, Abdul dan Abdul, Muhbib Wahab. Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam. Jakarta : Kencana, 2004
E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung : Rosda Karya, 2005
P. Siagian, Sondang. Teori Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta : Rineka Cipta, 1995



[2] Syaiful Sagala, Administrasi Pendidikan Kontemporer  (Bandung : Alfabeta, 2000), h. 195
[3] Ibid, h. 217-218
[5] Syaiful Sagala, Administrasi Pendidikan Kontemporer, h. 201
[6] Ibid, h.200
[7] Sondang P. Siagian, Teori Motivasi dan Aplikasinya (Jakarta : Rineka Cipta, 1995), h. 167
[8] E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional (Bandung : Rosda Karya, 2005), h. 144
[9] Abdul Rahman dan Muhbib, Abdul Wahab. Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam (Jakarta : Kencana, 2004), h. 136-137
[10] E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, h. 147
[11] Sondang P. Siagian, Teori Motivasi dan Aplikasinya, h. 167-170
[12] E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, h. 148-149
[13] Ibid, h. 149-150

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar